• Home
  • >
  • Female
  • >
  • 3 Pertempuran Revolusioner Demi Kemerdekaan Indonesia

3 Pertempuran Revolusioner Demi Kemerdekaan Indonesia

Meskipun kemerdekaannya jatuh pada 17 Agustus 1945, Indonesia masih harus melalui sejumlah pertempuran revolusioner untuk sepenuhnya merdeka.

Di perayaan HUT RI yang ke-71 ini, nggak ada salahnya kita mengenang pertempuran revolusioner dalam perjuangan panjang bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Meskipun kita semua tahu kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia sebenarnya masih jauh dari kata ‘merdeka’ pada saat itu. Demi mendapatkan pengakuan internasional atas kemerdekaannya, rakyat Indonesia harus menjalani empat tahun penuh konflik berdarah untuk kemerdekaan.

Untuk mengenang perjuangan yang menjadi bagian erat sejarah bangsa ini, mari simak pertempuran revolusioner di zaman itu.

Perlawanan gigih pemuda kendati semua rintangan

Pertempuran Revolusioner Indonesia 2

Sumber gambar dari wikipedia

Bermula dari ketegangan dan sukarnya komunikasi antara pihak Republik Indonesia dan tentara sekutu Inggris, peristiwa yang terjadi di Surabaya ini menjadi perang paling besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Kalau kamu masih ingat pelajaran sejarah di sekolah, pasti kenal dengan nama Brigadir Mallaby. Dalam upaya diplomasi antara pihak Indonesia dan sekutu, terjadi kesalahpahaman dan seorang pemuda Indonesia menembak Mallaby. Hal tersebut dipicu ketakutan bahwa Inggris sedang memboncengi Belanda ke Indonesia dan ultimatum dari sekutu bagi tentara Indonesia untuk menyerahkan senjata.

Kejadian di atas berakhir dengan serangan militer pihak Inggris dalam skala penuh terhadap kota Surabaya. Di bawah dukungan hujan artileri dan pesawat tempur, pasukan Inggris melakukan serangan yang terkoordinasi. Mereka menduduki bangunan satu demi satu di sepanjang Surabaya.

Biarpun kalah dari segi persenjataan dan pengalaman, para pemuda Indonesia terus mempertahankan Surabaya. Perjuangan yang gigih selama 3 minggu sebelum kota Surabaya akhirnya ditaklukkan selalu dikenang dalam hari Pahlawan yang jatuh di tanggal 10 November.

Pengorbanan besar untuk strategi bumi hangus

Pertempuran Revolusioner Indonesia 3

Sumber gambar dari Fully Smiley

Pada 23 Maret 1946, penduduk dan TRI (Tentara Republik Indonesia) berbondong-bondong meninggalkan Bandung sementara kota itu dilalap si jago merah. Kejadian ini adalah bagian dari strategi bumi hangus yang telah disetujui melalui musyawarah.

Karena kurangnya persenjataan dan kekuatan TRI untuk melawan laju pihak sekutu di kota Bandung, TRI dan warga akhirnya memutuskan untuk mengambil strategi bumi hangus. Dengan membakar kota Bandung, pihak sekutu nggak akan bisa memanfaatkan Bandung sebagai landasan operasi militer.

Apa yang mendorong berbagai individu dan keluarga hingga mereka rela membakar rumah mereka sendiri? Apa yang mendorong seluruh masyarakat untuk meninggalkan kota yang terkait erat dengan kehidupan dan identitas mereka?

Peristiwa Bandung Lautan Api mungkin nggak melibatkan pertarungan besar, namun terdapat kesadaran dari banyak orang untuk melakukan pengorbanan secara kolektif. Hal yang perlu diingat adalah tindakan bumi hangus ini bukan sesuatu yang dilakukan secara pasrah, namun suatu keputusan yang diambil dengan semangat perlawanan. Bahkan, setelah kota Bandung hangus terbakar, warga dan TRI masih melakukan perlawanan secara gerilya terhadap pihak sekutu.

Puputan Margarana

Pertempuran Revolusioner Indonesia 4

Sumber gambar dari satudeako

Kata puputan mengacu pada perlawanan hingga titik darah terakhir. Dalam standar dunia modern, hal tersebut terdengar seperti alternatif yang nggak akan diambil. Namun pada masa perjuangan kemerdekaan, itulah pilihan yang diambil I Gusti Ngurah Rai.

Pada 20 November 1946, ketika Kolonel I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya dikepung Belanda di desa Marga, dia menolak untuk menyerah. Alih-alih menurunkan senjata dan mengibarkan bendera putih, patriot Indonesia ini memilih untuk menyerukan puputan.

Perlawanan yang diberikan para pejuang Indonesia ini begitu gigih. Bahkan pengepungan terhenti untuk sesaat karena tentara Belanda harus memanggil bala bantuan dari seluruh infanteri Belanda di Bali, serta mendatangkan pesawat pengebom dari Makassar.

Meskipun seluruh pasukan Indonesia di bawah I Gusti Ngurah Rai beserta dirinya sendiri gugur dalam pertarungan melawan Belanda, semangat mereka masih dikenang melalui Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa di pulau Bali.

Peristiwa-peristiwa di atas mengisahkan bahwa sebenarnya tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari segalanya, hal itu malah mengobarkan pertempuran revolusioner di seluruh penjuru negeri. Bangsa Indonesia terus berjuang dan nggak pernah menyerah untuk memperoleh kemerdekaan yang sesungguhnya, walau kalah dari segi armada dan persenjataan. Untuk mengenal kegigihan bangsa Indonesia, kamu bisa baca di sini.

Sumber Gambar Utama: wikimedia

Categorised in: , ,

This post was written by Maximilian Marcel Surjadi