5 Atlet Olahraga Ekstrem Indonesia yang Mendunia

Mereka nggak hanya jago banget beraksi di lapangan tapi berhasil mengharumkan Indonesia lho lewat cabang olahraga ekstrem.

Indonesia tidak hanya punya atlet andal di cabang olahraga bulu tangkis. Di olahraga ekstrem pun atlet Indonesia ikut unjuk gigi di level internasional. Berikut para atlet olahraga ekstrem yang mengharumkan bendera Indonesia.

Januar Susanto

Dok.Kompas.com

Dok.Kompas.com

Atlet ekstrem yang akrab disapa Botay Agata ini menjuarai nomor BMX Flatland kelas master di Festival International des Sports Extremes (FISE) Sport Series 2016 di Montpellier, Prancis. Dia menyisihkan atlet kelas dunia dari Prancis, Spanyol, dan Italia di final dengan mengantongi poin 87,67 poin. Awalnya Botay tampil di kelas amatir. Tapi karena juri menganggap keterampilannya beratraksi dengan BMX sudah lihai, Botay masuk kelas master. Dan hasilnya dia juara. Botay menggandrungi BMX sejak 2008. Atlet berusia 27 tahun ini berguru pada seniornya di BMX, Abi Manyu.

Baca juga: 7 Gaya Ini Terinspirasi dari 7 Cabang Olahraga, Lho!

 

Sanggoe Darma Tanjung

Dok.Kompas.com

Dok.Kompas.com

Bersama Botay, Sanggoe juga mengharumkan nama Indonesia di Festival International des Sports Extremes (FISE) Sport Series 2016 di Montpellier, Prancis. Sanggoe menjuarai nomor skateboarding kelas amatir di babak final. Tidak hanya itu, atlet yang baru berusia 15 tahun ini sudah mendominasi sejak babak kualifikasi. Sanggoe bermain skateboard sejak usia belia lantaran kakeknya punya skate park di Bali. Dia pun pernah menjadi juara 3 FISE World Malaysia pada 2014 di Langkawai, Malaysia, serta kompetisi KIA World Extreme Games di Shanghai Cina pada 2015.

Arief Wismoyono

Dok.FitnessForMen

Dok.FitnessForMen

Arief Wismoyono menjadi juara Asia Trial Master pada 2015. Asia Trial Master merupakan lomba lari trail (lari lintas alam yang memadukan lari dengan mendaki gunung) dengan penilaian berdasarkan sistem poin seperti kompetisi. Lokasi lomba berada di negara-negara Asia seperti Nepal, Jepang, Cina, dan Indonesia. Pada lomba MesaStila Peaks Challenge 2016 yang melintasi lima gunung di Jawa Tengah, Arief melakukan aksi heroik dengan memilih membantu pelari lain yang mengalami hipotermia lantaran cuaca di bawah 35 derajat Celsius. Dia memutuskan tidak melanjutkan lomba meski berpeluang mempertahankan gelar jika saja tidak menolong pelari lain.

Hendra Wijaya

Dok.Kaskus.co.id

Dok.Kaskus.co.id

Hendra Wijaya menorehkan sejarah dengan menjadi pelari Indonesia pertama yang menaklukkan kutub utara dalam lomba ultra marathon Likeys 6633 Ultra di Arctic Ocean pada 20-28 Maret 2015. Pelari ultra-trail atau lari lintas alam dalam kondisi ekstrem ini menempuh 566 kilometer dengan waktu delapan hari kurang 4,5 jam. Dia harus mengatasi cuaca minus 32 derajat Celsius untuk menyelesaikan lomba tersebut. Belum lagi dia harus menarik gerobak es seberat 10 kilogram yang berisi perlengkapan selama perlombaan. Dalam waktu dekat, pria berusia 51 tahun ini akan mencoba peruntungannya dengan menaklukkan kutub selatan.

Lis Andriana

liz

Dok.angkasa.grid.id

Lis Andriana tercatat sebagai atlet paralayang juara dunia pada 2012 dan 2013. Awalnya, dia takut dengan ketinggian. Ketika pada 2016, pemerintah Kutai Barat kesulitan mencari atlet paralayang, Lis terpanggil dan melawan fobia ketinggian. Setelah latihan perdana di Malang, ibu 3 anak ini lantas ketagihan dengan paralayang. Berbagai medali pun diraih wanita berusia 37 tahun ini. Mulai dua emas di Asian Beach Games 2008 hingga juara dunia Para Gliding Accuracy World Cup 2012.

Gimana? Terinspirasi untuk mencoba salah satu olahraga ektrem tersebut?

Categorised in: , ,

This post was written by Kak Moza