• Home
  • >
  • Female
  • >
  • Bikin Bangga, 5 Bangunan Karya Arsitek Indonesia Ini Dapat Penghargaan Internasional

Bikin Bangga, 5 Bangunan Karya Arsitek Indonesia Ini Dapat Penghargaan Internasional

Pernah dapat penghargaan asing, 5 bangunan karya arsitek Indonesia ini memang patut dibanggakan, coba intip apa saja.

Prestasi bangsa Indonesia yang telah mendunia, ternyata salah satunya datang dari dunia arsitektur. Selain banyak dari arsitek Indonesia yang telah berkiprah dan berkarier di luar negeri, banyak juga para arsitek Indonesia beserta biro konsultannya, yang mendapatkan penghargaan skala internasional. Kerennya lagi, bangunan-bangunan yang mendapatkan award ini, dibangun di tanah air kita sendiri.

Penasaran siapa saja mereka, dan bagaimana konsep atau ide bangunan yang membanggakan tersebut? Berikut di antaranya!

Omah Dara by Parisauli

www.arsitag.com

www.arsitag.com

Sebuah bangunan untuk kebutuhan kamar-kamar sewa bagi remaja puteri ini didesain oleh Parisauli Arsitek (Ario Wirastomo dan Ditta Astrini Wijayanti). Meski secara bentuk bangunannya terlihat catchy dan berbeda dari prototipe-nya, namun Parisauli tetap mendesainnya dengan dengan konsep down to earth. Terbukti dari beberapa ekspos material dan warnanya yang tetap membumi. Setiap bangunan yang juga nggak berdempetan adalah salah satu upaya untuk memberikan keleluasaan berhuni bagi setiap penyewanya.

Nggak heran bangunan ini mendapatkan nominasi untuk Aga Khan Award for Architecture 2013. Aga Khan Award sendiri adalah sebuah penghargaan arsitektural yang digagas oleh Aga Khan IV, salah satunya untuk menghargai konsep arsitektural yang berhasil mewadahi keperluan dan aspirasi masyarakat yang Islami dalam jalur rancangan kontemporer. (Sumber foto: www.arsitag.com)

Baca juga: 5 Ornamen yang Bikin Suasana Rumah Jadi Indonesia Banget

Dancing Mountain House by BPA

modern_dancing

www.goodnewsfromindonesia.id

Nama Budi Pradono memang salah satu arsitek Indonesia yang sudah tak diragukan lagi. Terbukti biro yang dipimpinnya (Budi Pradono Architects) pernah mendapatkan Arcasia Awards for Architecture 2016 sebagai karya residensial terbaik. Rumah di Desa Tetep Wates Argomulyo, Salatiga ini adalah satu dari sekian banyak desain BPA yang mengedepankan modernisasi dengan unsur tradisional.

Pada bangunan ini, material bambu diekspos sedemikian rupa oleh BPA. Seperti diketahui, bambu adalah salah satu material lokal yang ketahannya bagus dan menarik untuk dikreasikan. Bentuk bangunannya mengimplementasikan bentuk pegunungan, yang memang mengelilingi daerah d imana bangunan ini berdiri. Nggak heran bangunan ini dinamakan Dancing Mountain House.

Dra House by D-Associates

dra_house

www.archdaily.com

Bersamaan dengan Budi Pradono Architects, di tahun 2016 pula, D-Associates (sebuah konsultan pimpinan Gregorius Supie Yolodi bersama dengan Maria Rosantina) mendapatkan penghargaan Arcasia Awards for Architecture. Sebuah private villa di Sanur Bali ini memang didesain dengan garis yang lebih modern namun tetap estetis dan dekat dengan unsur alam.

Bentuk bangunan persegi panjang yang cukup besar disiasati dengan kolam renang dan ruang terbuka di bagian tengah. Dimana lantai satu dibuat semi terbuka untuk memperpanjang pemandangan, dan bangunan di lantai atas dibuat seolah mengapung. Yang juga jadi daya tarik pada bangunan vila ini adalah kisi-kisi kayu transparan yang mengisi bagian inti rumah. Sangat menginspirasi!

Baca juga: 5 Ornamen yang Bikin Suasana Rumah Jadi Indonesia Banget

Bima Microlibrary by SHAU Bandung

micro_lib

www.archdaily.com

Tahun 2017 ini, Bima Microlibrary di Bandung memenangkan Architizer A+A Awards (Jury Winners and Popular Choice Winners) untuk kategori Architecture + Community. Adalah buah hasil karya konsultan SHAU Bandung – Daliana Suryawinata, Florian Heinzelmann, Yogi Ferdinand, beserta rekan-rekannya). Dengan visi yang sangat mulia sebagai wadah baca bagi masyarakat umum, bangunan ini juga dibangun dengan ide dan konsep yang mengedepankan kebersamaan.

Bangunan dibuat seolah mengambang, karena memang lokasinya sering digunakan untuk orang-orang berkumpul. Sementara untuk menunjang aktivitas membaca, SHAU tentu mengedepankan unsur pencahayaan dalam bangunan terutama dari sumber alami. Secara cermat, digunakanlah ribuan ember bekas wadah es krim (sebagai pengisi dinding bangunan ini) yang dibuat masif atau tertutup, dan juga transparan.

Splow House by Delution Architect

splow

www.delution.co.id

Bukan saja perpustakaan di Bandung, Architizer A+ Awards 2017 untuk kategori Arsitektur dan Hunian Kecil versi Public Choice, jatuh kepada desain hunian karya biro arsitek Indonesia juga. Delution Architect (Muhammad Egha, Hezby Ryandi, Sunjaya Askaria, dan Fahmy Desrizal) membangun rumah di kawasan padat penduduk ini dengan konsep yang mengedepankan peghematan energi.

Rumah yang didesain dengan konsep split dan grow ini, memiliki ruang terbuka (void) yang membuat pembagian dan aktivitas ruang di dalamnya menjadi lebih lapang. Tentunya ini upaya yang bikin penghuni jadi lebih bisa hemat energi pencahayaan dan penghawaan. Sementara warna bahan pengisi yang dibuat light, bikin tampilan rumah ini jadi hangat.

Keren banget, kan? Tentunya sebagai masyarakat Indonesia, kita patut berbangga terhadap hasil karya anak bangsa yang sudah mendunia!

Categorised in: , ,

This post was written by Diona Ratrixia